Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Juli 2019


Terlelap dalam Kelu


pict : dokumen pribadi

Bila kau tanya apa itu rindu?
Ia adalah pemonopoli  keseluruhanku yang tengah berkacak pinggang menentangku yang hingga kini masih terlelap dalam kelu.
“Aku ingin dicumbu! Aku mau dirayu!”
Ia terus berontak menggebu. Hanya membangunkan gairah binalku yang lama mati suridan kini tengah gelisah minta disentuh. Keluku menjadi keluh.
Ah, rindu, mengapa kau hadir saat ku tak penuh? Bukankah dulu kau yang melenggang enggan kuasuh?
                                                                                                                                       Cepu, 27 Maret 2019




*zalinggar* pecandu kopi, penikmat rindu

Sabtu, 11 Februari 2017

Untukmu yang Berjubah Api

Mei, tahun pertama

Untukmu yang berjubah api, hangatmu mencairkan hati yang membeku; hati yang sempat kudinginkan karena luka di masa lalu. Apa kau tahu? Meratapi puing di antara reruntuhan kisah lama, tanpa mengikuti ritme dunia, adalah ilusi yang menenangkan. Jadi, tak usah mengharapkanku menitipkan sesuatu yang belum tentu bisa kau jaga. Meski mungkin, pengharapan darimu hanyalah pengharapan dariku semata.
Jangan memikat jika kau tak berniat mengikat.
Kau imigran gelap yang menjelajah khayalku tanpa permisi, lalu singgah di ujung mimpi. Mantra apa yang kautaburkan hingga aku menggilaimu seperti ini? Senjata apa yang kaupakai hingga tamengku tak sekuat dulu? Haruskah aku menyerah di hadapanmu? Atau perlukah aku berpura-pura tangguh? Apa mesti kau kuusir? Atau kubiarkan saja kau menetap?
Jika ingin menetap, jangan menetap sebagai 'tanda tanya' tapi sebagai 'titik' pengembaraan. Kau jernih di antara buram, nyata di antara nanar. Biar kurengkuh dirimu beberapa milimeter ke dekat jantungku, agar detaknya seirama dengan jantungmu. Karena aku ingin hatiku dan hatimu berkonspirasi, berkonsorsium, berkongsi, berkompilasi, berkomplot, hingga pada akhirnya berkolaborasi. Karena aku yang egois ini hanya ingin kau menjadi milikku seorang.
Untukmu yang berjubah api, kuharap hangatmu takkan padam, karena aku tahu aku pun tidak.

Fiersa Besari, Garis Waktu, hlm. 19-20

Kepada Kamu


Kepada Kamu,
Aku tak menyangka berbicara berdua bisa menjadi sesulit ini sekarang. Kita seperti kita yang dulu sebelum saling mengenal. Tapi, bersamaan dengan tulisan ini bolehkah aku menyampaikan sesuatu kepadamu? Kau mau membacanya atau tidak itu terserah dirimu. Sengaja atau tidak sengaja. Sepintas atau berulang-ulang.
Aku tidak akan berkata panjang-panjang, aku harus pergi sekarang, dan aku tidak tahu kapan akan kembali. Atau mungkin tidak sama sekali; Aku masih belum tahu.
Aku hanya ingin kau tahu satu hal sebelum aku pergi.
Bahwa sempat dekat denganmu adalah hal paling indah yang pernah terjadi dalam hidupku. Percayalah.

Brian Khrisna, Merayakan Kehilangan, hlm. 25

Apa Jatuh Cinta Begini Sebuah Kesalahan?

Sejujurnya aku senang berlama-lama denganmu. Menikmati setiap detik yang menemani detak jantung kita. Suaramu, manjamu, dan semua hal yang kau hadirkan membuatku merasa lebih baik. Seringkali suasana hati yang sedang tak keruan bisa tiba-tiba tenang karenamu. Semakin hari kita semakin nyaman. Dan rasanya aku semakin terikat kepadamu. Ada rasa butuh yang membuatku semakin betah denganmu.
Namun, ada sesuatu yang tiba-tiba mendebarkan dadaku lebih kencang. Ada hal yang tiba-tiba menggoyahkan segalanya. Kata nyaman tak lagi terasa seaman dulu. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Aku bahkan tidak memercayai diriku sendiri. Aku jatuh hati pada seseorang yang sudah membiarkan hatinya diikat oleh orang lain.
Apakah perasaan ini salah? Adakah cinta yang tumbuh atas kesalahan? Atau, memang keadaan yang membuat semua ini menjadi salah. Lalu, kenapa ada cinta seperti ini? Pada saat kita bahagia, sementara ada seseorang yang belum kauselesaikan kisahmu dengannya. Apa semua ini benar-benar membuat kita bahagia?
Aku telah mencari jawaban untuk semua pertanyaan di kepalaku. Namun, aku tak menemukan apa pun selain kamu. Tidak ada dia, tidak ada siapa pun yang aku temukan. Lalu, apa ini bisa kita sebut cinta? Pada saat yang sama kita melukai dia. Apakah ini yang namanya kebahagiaan? Di saat yang sama kita menghancurkan hati seseorang.
Pada saat seperti ini, aku sama sekali tidak bisa memilih. Pergi meninggalkan orang yang kucintai, atau tetap bertahan dan membiarkan orang yang kucintai menyakiti. Aku tahu ini bukan pilihan. Namun, jatuh hati padamu bukanlah sebuah keinginan. Atau mungkin cinta memang datang dengan cara begini. Menguji apakah kita sanggup bertahan saat salah satu tersakiti.

Boy Candra, 06/09/2014
Catatatn Pendek untuk Cinta yang Panjang hlm. 15-16